Prabu Manikmaninten " Sang Dewa Salah Mengejewantah "

Iklan Semua Halaman

Prabu Manikmaninten " Sang Dewa Salah Mengejewantah "

Minggu, 07 Juni 2020
Oleh :  KRT. Noorwahjudi Hadinagoro
Ilustrasi : Semar


Alkisah peradaban bumi mayapada semakin bertumbuh-kembang. Kemakmuran telah dirasakan seluruh penghuninya. Keadaan ini digambarkan secara elok sebagai negeri baldatun toyibah, Panjang Punjung Pasir Wukir Gemah Ripah Lohjinawi Tata Tentrem Kerta Raharja. Murah sandang, murah pangan, hidup manusia serba rukun gemar bergotongroyong. Seandainya ada beberapa kelompok yang masih pusing kelaparan, itu hanya angka statistik belaka. Bisa diatasi dengan gerakan filantropi. Bumi adalah kepingan surga.

Tidak salah keputusan Ki Lurah Semar Bodroyono saat memutuskan untuk mengejawantah, menjadi manusia jelata dengan wujud muka lucu, perut segendut karung goni dan pantat sebesar dandang. Segala pengorbanan ini tidaklah sia-sia. Lurah Semar meninggalkan tahta Kahyangan demi memelihara planet biru. Kedudukan istimewa dia serahkan pada sang adik. Manikmaya. Bethara guru dengan segenap fasilitas serta team eksekutif pilihan.

Tentu saja wajar bila fasilitas pengelola jagad raya Manikmaya CS tersebut mewah diatas segala kemewahan. Lengkap super premium-platinum-diamond. Orang Jawa menggambarkan dengan istilah Tan kena Kinira. Kenikmatannya tidak bisa dibayangkan.

Lain halnya dengan kesahajaan sang kakak pertama tersebut, mengemban daulat Sang Hyang Wenang. Batara Guru, justru tidak sreg, kurang berkenan dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai manusia bumi. Bukan soal kemajuan ilmu pengetahuan dan gegap gemtita teknologi. Para ksatria gemar melakukan ritual pandhita. Sebagai satu contoh kecil saja, Arjuna. 

Wayang satu ini gemar sekali melakukan Tapa Brata. Menempa fisik menahan lapar-haus membungkam panca indera. Nyepi, tapa ngrame, tapa mbisu, tapa ngeli, tapa ngalong, bereneka metode menempa jiwa raga sudah lengkap dijalani. Bagaimana dengan tapa wuda sinjang rambut ? Tidak. Biarlah itu menjadi hak paten dari Ratu Kalinyamat, pendiri kota Jepara.

Setan, Iblis, Jin Peri prayangan kepanasan, tidak leluasa bergentayangan. Gedruwo, Wewe, Banaspati, pening kepala. Raseksa-Raseksi gerah istananya seperti terbungkus kabut api. Asapnya membumbung menembus langit ke tujuh. Kayangan-kayangan pengap, sumuk. 

Yamadipati kacau kekejamannya karena kawah Candradimuka tidak lagi mendidih.   Kamajaya-Kamaratih terganggu kesulitan menebar mantra cinta. Tatanan rusak tidak bisa dibiarkan. Para dewa sudah berkeluh kesah. Hanya satu solusi, tenggelamkan.

Eh...bukan ini bukan kapal pencuri ikan. Mahkamah para dewa digelar. Bahasanya rumit susah dipahami. Algoritma matematika disusun, Artificial Intelegent mulai di coding. Metode Ilmu Aktuaria digelar. Editing DNA dan reengineering RNA disimulasikan untuk menghukum para penentang, ledakan bom atom diperkirakan skala kerusakannya. 

Ah...jangan. Aksi koboi kurang memenuhi unsur estetika. Mayapada harus tetap indah. Polah manusia harus tetap ada sebagai penghiburan para dewa. Diputuskan secara aklamasi. Betara Guru, bisa mengatasi sendiri. Tidak perlu pembisik yang biasanya sarat kepentingan. Tidak perlu juga juru bicara yang selalu mengundang kontroversi. Para Buzer istirahat saja menikmati bank account. Manikmaya mengejawantah.

Oooooohng.....dok....dok....dok drodok....dok. Bumi anteng tidhem premanem.... langit berkelap kelip, Covid 19 mensenyapkan keadaan.  Polusi berkurang, udara bersih, saat PSBB diberlakukan sebagai ganti Lockdown. Undang-Undang karantina wilayah sulit diterapkan..... ooooohng..... Batara guru turun dari Jonggring Salaka. Lembu Andini ia tinggalkan. Dengan senyap sang dewa blusukan, tanpa pemberitaan media. Hutan rimba, sungai, kampung dan pusat belanja dideteksi. Protokol segera bisa dijalankan. Gorong-gorong. Ah...tidak perlu. Cukup masuk ke goa saja. 

Baju kebesaran dewa ditanggalkan. Sedikit penyamaran, pakai masker dan mencari proxy. Tidak elok jika kelas dewa langsung menghajar Arjuna. Cukup datangi penguasa Astina, dan beslit, surat tugas akan ditandatangani. Sengkuni dengan sigap pasti akan mengerahkan pasukannya. Dursasana bisa memimpin dengan gaya ugal-ugalan. Citraksa-Citraksi, tentu disertakan.

Prabu Manikmaninten. Pas, cocok, nama yang membumi. Tidak ada yang akan mengenali sosok kedewataannya. Sambutan istimewa diberikan, raja Duryudana penuh pengharapan. Drona sebenarnya sedikit bisa mencium aroma dewa, namun karena konsekuensi jabatannya dia harus diam, pura-pura tidak tahu saja. Manikmaninten sudah mengerdipkan mata kiri dengan genit. Entah ditujukan pada para begawan Waskita atau pada Banowati sang Permaisuri Raja Hastinapura. 

Namun Ki Semar tidak tidur. Kuncung putihnya bergetar, google map menuntun para punakawan menemukan goa Selomaninten, tempat jubah dewa disembunyikan. 

Hei, Petruk....ngger Kanthong Bolong, cepat ke sini. Pakailah jubah itu, modelnya cukup keren. Main-mainlah sebentar. Lakukan Disrupsi.

Gembiranya si Petruk, wajahnya jadi tampan, kekuatan meningkat berlipat-lipat, aromanya wangi.  Diikuti Nala Gareng dan Bagong, si Bawor gendut, mereka hajar pasukan Dursasana. Sengkuni lari terbirit-birit. Tidak cukup, Petruk terbang ke kayangan demi kayangan. Gerakannya disruptif, mengubah tatanan. Harus ada new Normal.

Betara Indra dihardik disuruh mengerahkan para dewa untuk membongkar taman-taman Borjuis, diganti dengan tanaman singkong, kacang, jagung dan kedelai. Petruk masuk Jonggring Salaka, membentak memerintah penampilan Jazz, orchestra dan pentas balet dihentikan seketika. Wine, Vodca, sampanye, Bacardi, segala minuman ditumpahkan ke lantai dansa diganti Legen, Kunirasem, wedang ronde dan oplosan jahe temulawak. Ciu....diijinkan, tapi sedikit saja. Pizza, burger, Lasagna atau steak disebar kehalaman diganti arem arem, thiwul, blanggem, gethuk dan aneka jadah. Semua wajib Decoupling.

Ini irama apa ? Bikin ngantuk saja. Ganti Dangdut....!!! Dewa Bayu menunduk takut, disepak, ditendang pantatnya. Hayoh bangun....joget.... semua yang merasa dewa atau bidadari joget semua. Mainkan irama koplo sekoplo-koplonya.

*Salam Dharma*

Jepara, 7 Juni 2020

_Dengan rendah hati, mengharap Mahkamah Konstitusi tidak bosan memegang tongkat Dewa_